Di Balik Stigma, Kejurcab ORADO Sumut 2026 Tegaskan Domino Bukan Perjudian

Di Balik Stigma, Kejurcab ORADO Sumut 2026 Tegaskan Domino Bukan Perjudian

Medan, poindonews.com | Di tengah stigma lama yang masih melekat, Federasi Olahraga Domino Indonesia Provinsi Sumatera Utara justru mengambil langkah terbuka: menggelar Kejuaraan Cabang (Kejurcab) 2026 di Aula PRSU, Minggu (19/4/2026).

Ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga upaya serius melawan persepsi publik yang kerap menyamakan domino dengan praktik perjudian.

Kejurcab dibuka oleh Muhammad Pratama Daulay, didampingi Kakung Santosa dan Yopie H Batubara. Namun di balik seremoni yang berlangsung khidmat, tersimpan misi yang lebih besar: mengangkat citra domino sebagai olahraga resmi yang layak diperhitungkan.

Ketua ORADO Sumut, Yopie H Batubara, tidak menampik bahwa tantangan terbesar bukan hanya mencetak atlet, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat.

“Kejurcab ini memang ajang kompetisi dan seleksi atlet. Tapi lebih dari itu, ini adalah pembuktian bahwa domino adalah olahraga, bukan perjudian,” tegasnya.

Selama ini, permainan domino kerap diasosiasikan dengan aktivitas non-olahraga, bahkan dianggap identik dengan praktik taruhan.

Kondisi tersebut dinilai menjadi penghambat lahirnya atlet-atlet potensial, terutama dari kalangan generasi muda.
Padahal, menurut Yopie, domino yang dipertandingkan dalam kejuaraan resmi menuntut kemampuan analisis, strategi, konsentrasi tinggi, serta sportivitas, nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip olahraga di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia.

“Kita ingin memutus stigma itu. Domino ini soal kecermatan berpikir dan strategi, bukan soal untung-untungan,” ujarnya.

Kejurcab ini sekaligus menjadi pintu seleksi menuju level yang lebih tinggi. Para peserta terbaik akan diproyeksikan mewakili Sumatera Utara di kejuaraan nasional, setelah melalui pembinaan yang lebih terstruktur.

Di sisi lain, ORADO Sumut juga mulai memperluas pembinaan hingga ke tingkat desa. Langkah ini dinilai penting untuk mengarahkan minat masyarakat agar tidak terjebak pada praktik yang menyimpang, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya atlet domino berprestasi.

Kejurcab yang berlangsung satu hari ini mempertandingkan berbagai kategori, dengan hadiah berupa uang pembinaan dan medali.

Namun lebih dari sekadar trofi, ajang ini menjadi pertaruhan citra: apakah domino akan terus dibayangi stigma lama, atau benar-benar diakui sebagai olahraga yang berintegritas.


(Dodi Rikardo)