81 Tahun Pancasila : JANGAN BIARKAN IA HANYA HIDUP DALAM PIDATO
Ditulis Oleh : AFRIZAL
Hari ini 1 Juni 2026 bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila yang ke-81. Sejak pertama kali diperkenalkan pada 1 Juni 1945, Pancasila telah menjadi fondasi berdirinya bangsa ini, menjadi pemersatu jutaan manusia yang berbeda suku, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Delapan puluh satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Pancasila telah melewati berbagai zaman, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan, masa pembangunan, reformasi, hingga era digital yang penuh tantangan seperti saat ini. Namun pertanyaan yang layak kita renungkan bersama adalah, apakah setelah 81 tahun berlalu, Pancasila benar-benar telah menjadi pedoman hidup bangsa atau hanya menjadi simbol yang muncul pada momen-momen tertentu?
Kita sering menyaksikan Pancasila dikumandangkan dalam upacara-upacara resmi. Kita mendengarnya dalam pidato para pejabat, melihatnya dalam baliho dan spanduk, bahkan menjadikannya tema dalam berbagai kegiatan seremonial. Akan tetapi, kemuliaan Pancasila tidak terletak pada seberapa sering ia disebut, melainkan seberapa jauh nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Pancasila lahir bukan untuk menghiasi dinding kantor pemerintahan. Pancasila juga bukan sekadar teks yang dihafal di ruang kelas. Ia lahir sebagai panduan moral, arah perjalanan bangsa, dan kompas yang menunjukkan jalan ketika Indonesia menghadapi berbagai persoalan.
Hari ini ketika masih ada ketidakadilan yang dirasakan rakyat kecil, ketika masih ada perpecahan yang dipelihara demi kepentingan politik, ketika masih ada kesenjangan sosial yang begitu lebar, maka sesungguhnya kita sedang diingatkan bahwa pekerjaan untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila belum selesai.
Sila pertama mengajarkan kita untuk menghormati sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan.
Sila kedua mengajarkan pentingnya keadilan dan kemanusiaan.
Sila ketiga mengingatkan bahwa persatuan harus berada di atas segala kepentingan kelompok.
Sila keempat menuntut hadirnya demokrasi yang bijaksana dan berpihak kepada rakyat.
Sedangkan sila kelima menegaskan bahwa keadilan sosial harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Sayangnya dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai tersebut masih sering kalah oleh kepentingan kekuasaan, ambisi politik, dan kepentingan golongan. Akibatnya, Pancasila terkadang hanya menjadi slogan yang indah didengar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kenyataan yang dirasakan masyarakat.
Afrizal Ketua Rumah Solusi Indonesia mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjadikan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum introspeksi nasional. Sudah saatnya kita berhenti menjadikan Pancasila hanya sebagai hafalan dan simbol seremonial. Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan nyata, dalam sikap saling menghormati, dalam semangat gotong royong, dalam keberanian memperjuangkan keadilan, serta dalam komitmen menjaga persatuan bangsa.
Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa megah peringatan Hari Lahir Pancasila diselenggarakan setiap tahun. Masa depan Indonesia ditentukan oleh seberapa sungguh-sungguh seluruh elemen bangsa menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Jika para pemimpin menjadikan Pancasila sebagai dasar dalam setiap kebijakan, jika aparat menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam menegakkan hukum, jika masyarakat menjadikan Pancasila sebagai tuntunan dalam kehidupan sehari-hari, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat, adil, dan bermartabat.
Di usia ke-81 tahun ini, Pancasila tidak membutuhkan pujian yang berlebihan. Pancasila membutuhkan keteladanan. Pancasila tidak membutuhkan seremoni yang megah. Pancasila membutuhkan keberanian untuk dijalankan.
Karena sesungguhnya ancaman terbesar terhadap Pancasila bukanlah mereka yang tidak menghafalnya, melainkan mereka yang mengaku mencintainya tetapi mengabaikan nilai-nilainya.
Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.
Mari menjaga Indonesia dengan menghidupkan Pancasila dalam tindakan, bukan hanya dalam ucapan. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak berbicara tentang Pancasila, melainkan bangsa yang paling setia mengamalkan Pancasila.






